Tentang Kami

Yayasan Pendidikan Almahdiyyin didirikan oleh KH. Syafii Mudzhar pada tahun 1951. Awal mula yayasan pendidikan ini merupakan sebuah Langgar/Surau kemudian berkembang menjadi Masjid (Sebelum Kemerdekaan Indonesia). Jauh sebelum masa kemerdekaan RI yayasan ini memang sudah  menjadi pusat kajian keislaman kemasayakatan yang diampu langsung oleh Ayahanda sang pendiri yaitu KH Mudzhar Kafil Nur Minhu. Dengan kegiatan sehari-hari menerapkan sistem ngaji rutin baik bagi santri mukim maupun santri tidak mukim, serta masyarakat luas. Kajian kitab dalam masa sebelum kemerdekaan meliputi kajian Alquran, Ilmu Alat, fiqih, Hadits dan Tasawwuf. Hal ini terlihat dari beberapa dokumen kitab yang sampai saaat ini masih ada yang terselamatkan meskipun sudah tidak utuh, selain itu juga dapat dilihat dari kebiasaan dalam aktifitas rutinitas  keagamaan yang dalam sejarah masyhur mengkaji dan mendawamkan kitab adzkia dijadikan wiridan sebelum sholat.

Dalam kisa-kisah turun temurun sesepuh desa mengungkapkan bahwa kehidupan masyarakat sejak dulu sudah berjuang bersama untuk menciptakan lingkungan masyarakat madani, berjuang gotong- royong untuk menjadikan sebuah yayasan yang mandiri (swadaya masyarakat), sehingga tak heran jika hampir seluruh pembangunan yang dilakukan oleh yayasan pendidikan almahdiyyin terutama pembangunan fisik (gedung sekolah, masjid) bersumber dari masyarkat mulai dari pasir, kerikil, bata, kapur, kayu, tenaga, dan juga lahan yang dijadikan tempat adalah tanah wakaf. Sehingga tidak heran meskipun berlokasi jauh dari perkotaan namun pembangun yayasan terus tidak pernah berhenti.

Secara administrasi yayasan almahdiyyin baru diresmikan pada tahun 1991 oleh putra pendiri yayasan yaitu  Kiai Sulahak S. Ag.  dengan melakukan Restrukturisasi kelembagaan dengan mendirikan lembaga pendidikan Diniyah Miftahul Huda yang secara aktifitas sudah ada sejak zaman penjajahan. namun secara administrasi kelembagaan baru disahkan tahun 1991. Kurikulum di madrasah diniah ini tata dengan rapih memenuhi syarakat kurikulum pesantren dan sedikit kurikulum umum.

Melihat urgensi lembaga formal sebagai akibat dari perkembangan masa moderenitas dan globalisasi maka kebutuhan akan legalitas pendiidikan formal sangat dibutuhkan, berangkat dari dasar ini dan dorongan penuh dari sang pendiri, Kiai Sulahak mendirikan lembaga pendidikan formal yang dikawasan desa Alaskokon dan sekitarnya masih sangat minim, maka didirikanlah lembaga pendidikan Madrasa Tsanawiyah pada tahun 2004, tak berselang lama pada taun 2006 didirikan Madrasah ibtidaiyah pagi sebagai uapaya memenuhi permohonan masyarkat yang ketika itu merasa riskan akan perkembangan pendidikan sekolah pemula, tak membutuhkan waktu yang lama dan diiringi oleh kesadaran akan pentingnya pendidikan formal lebih tinggi lagi, maka pada tahun 2009 didirikan  Sekolah Menegah Kejuruan (SMK), dengan dua program keahlian : Teknik Audio Vidio (TAV) dan Akuntansi (AK).

Seiring dengan perkembangan waktu dan kemajuan teknologi yaysan almahdiyyin melalui lembaga pondok pesantrennya (PP. Nur Yasin) mengupayakan percepatan pembangunan Indek manusia (IPM), yang menjadi konsentrasi penuh karena pada fakta yang ada ditengah pesatnya pembangunan Indonesia baik insfrastruktur, kesehatan, pendidikan dan ekonomi tidak mampu berjalan seirama di pulau Madura. Hal ini terlihat dari tingkat IPM Propinsi Jawa Timur 10 besar terendahnya disumbang dari 4 kabupaten yang ada di Pulau Madura. Padahal dari segi sumbangsih Pulau Garam ini tidak bisa dianggap remeh, dimana total suplay Gas dari Jawa Timur 80% adalah dari bumi Madura, begitu juga dengan total suplai minyak dari Jawa Timur maka 52% adalah dari ceruk sumur minyak  pulau sebelah utara ibu kota Jawa timur ini. Oleh sebab itu Yayasan Almahdiyyin bertekad untuk mencetak santri/siswa yang paham betul akan perkembangan yang ada dengan menanamkan semangat Entrepreneur . mencetak generasi islam yang uggul secara agama maupun akademik. Karena seyogyanya tidak ada lagi yang namanya dikotomi agama dan ilmu pengetahuan yang diciptakan oleh ketipangan pemahaman akan agama dan ilmu pengetahuan. Sebagai implemtasi kongkrit maka pada tahun 2019 didirikan pusat pengembangan teknologi Pangan dengan memohon dukungan penuh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Gunung Kidul, untuk mendalami pengembangan makanan tradisional yang mampu bersaing dengan makanan modern. Mampu mengenalkan kepada generasi masa yang akan datang akan kemajuan pangan tradisional yang mampu memenuhi gizi berimabang  kandungannya untuk kebutuhann  tubuh manusia.

Oleh sebab itu pada tanggal 02 Maret tahun 2020 di Launching Program SMK Mini yang memproduksi BEBEK AWET MADURA siap saji, dimana makanan ini adalah  olahan bebek dengan khas racikan  bumbu tradisional dikemas dengan teknologi pengalengan sehingga awet lebih dari 1 tahun tanpa bahan pengawet.  Produksi masakan tradisional ini berada dibawah Lembaga Pusat Pengembangan Teknologi Pangan Awet Madura Food. Dengan renacana produksi di tahun 2020 ini akan meliputi : 1. Bebek Awet Madura, 2. Kuah Adhun Awet Madura, 3. Srapa Awet Madura, 4. Ladheh Awet Madura, 5. Burung Dara Awet Madura. Untuk perkembangan teknologi selanjutnya akan mengarah kepada perkembangan pemanfaat rahasia ramuan tradisional Madura yang secara nyata telah dirasakan manfaatnya oleh masarakat luas. Untuk mendukung penuh pengemangan teknologi pangan maka dibangun pabrik yang terstandar dengan lembaga negara yang memebri sertifikasi halal maupun kemanan pangan (BPOM).

“lembaga pendidikan almahdiyyin hidup ditengah masyarkat dan dirangkul oleh masyarkat dalam setiap perkembangannya. Baik pembangunan fisik maupun pengembangan non-fisik. Swadaya masyarakatlah yang menjadi kekuatan terbesar yang kemudian menjadikan yayasan ini secara mandiri memebangun pendidikan. 3 elemen penting dalam kehidupan pendidikan dipedesaaan yang jauh dari perkotaan: Institusi (Yayasan/lembaga), santri/siswa, Masyarakat, dan Alumni. oleh sebab itu marilah kita berjuang wahai insan yayasan almahdiyyin, kita memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi pemecah permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat pedesaaan ini yang meliputi Pendidikan, kesehatan, dan Perekonomian. Guna mencapai masyarkat yang madani (terpenuhinya segala kebutuhan pembangunan manusia)” (Ketua Yayasan Al Mahdiyyin K. Sulahak S.Ag)